Home Khazanah Islam UBN Dipilih Secara Akalamsi Pimpin SAJID

UBN Dipilih Secara Akalamsi Pimpin SAJID

Prof. Sami: Jurnalis Muslim harus Gunakaan AI untuk kepentgingan dakwah

58
0
SHARE
UBN Dipilih Secara Akalamsi Pimpin SAJID

Keterangan Gambar : Para jurnalis Muslim yang ikut dan berpartisipasi mendirikan SAJID (foto pan)

Jakarta,pjminews.com- Sejumlah jurnalis Muslim yang berhimpun dalam Asosisasi Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID), secara aklamasi meminta kesediaan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) sebagai Ketua Umum.

Ini mengemuka  dalam diskusi ”Brainstorming dan Pembentukan Serikat Jurnalis Islam” di UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu 14 Juni 2026.

Pertemuan/diskusi tersebut merupakan rangkaian dari pertemuanm-pertemuan sebelumnya yang berlangsung secara ajek  setiap Jumat Subuh, dihadiri puluhan jurnalis Muslim.

Forum menilai ketokohan Ustad Bachtiar Nasir untuk memimpin SAJID sangat pas, mengingat kepakaran dan jaringannya yang luas di dunia Islam. UBN, saat ini, juga Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).

Menjawab permintaan tersebut UBN menyatakan kesediaannya dan berharap organisasi yang dibentuk benar-benar dapat memperjuangkan kepentingan umat Islam, terutama di tingkat internasional.

"Bagaimana kita membua narasi, yang kita suarakan secara bersama-sama dan mampu membentuk opini publik," ujarnya.

Selama ini, lanjut UBN, narasi-narasi yang dibuat oleh jurnalis Muslim dalam memperjuangkan kepentingan umat Islam, kurang bergaung. Salah satu penyebabnya  karena tidak disuarakan secara bersama-sama. Tidak ada orkestrasi yang memandunya.

"Kita seolah-olah jalan sendiri-sendiri," tambahnya.

Kehadiran SAJID, lanjut UBN,  dapat menjadi derigen dalam orkestrasi yang menarik.   

Pemanfaatan AI

Sebelumnya di tempat yang sama Mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU) Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, ikut memberi paparan. Menjawab pertanyaan forum, mengenai kondisi jurnalis Mesir dalam memanfaatkan teknolog AI dalam kerja jurnalistik, Prof. Sami mengatakan para Jurnalis Mesir juga mengalami kegagapan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dalam penulisan berita. Ini dikarenakan masih banyak yang belum  menguasai teknologi itu dengan baik. Selain itu percepatan perkembangan kecerdasan AI bidang informasi  sangat pesat, jauh melampaui  kemampuan jurnalis mengadopsi (menguasainya). 

 ”Saya kira bukan saja di Mesir tetapi di sejumlah negara, termasuk negara maju mengalaminya,” ujar Prof. Sami yang juga Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) dan Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab.

Menurut Prof. Sami, meskipun teknologi AI sangat pnitar dan sangat cepat dalam membuat berita, namun kendali tetap ada pada jurnalis.

”Jurnalislah yang menentukan ini layak tayang atau tidak. Bisa jadi informasi yang diberikan AI itu benar,  akurat dan sesuai fakta, tapi jurnalis bisa mempertimbangkan dampak (efek) dari pemberitaan itu. Sebagai jurnaslis Muslim, pertimbangan pertama adalah apakah informasi ini bermanfaat untuk umat atau tidak?” tambah pakar Komunikasi Islam, yang selama di Jakarta juga melakukan serangkaian petemuan di sejumlah perguran tinggi Indonesia.

Lebih jauh Prof Sami meyakinkan bahwa perkembangan teknologi AI tidak bisa dihambat atau dihentikan. Teknologi ini akan terus berkembang. Bahkan sebuah media di Mesir pernah menurunkan artikel tentang menunaikan haji secara virtual. Jamaah tidak usah berdesak-desakkan di Ka’bah, Arafah, Mina atau di Madinah. Cukup duduk manis   di ruangan dalam rumah.

”Ini sempat menjadi perdebatan. Walaupun dibantah secara syariah ini tidak sah, tetapi pemikiran tentang ini  ada di ruang media, hasil kecerdasan AI. Nah sebagai jurnalis,  yang pertama kali kita pertimbangkan adalah apakah pemberitaan atau perdebatan ini bermanfaat untuk umat atau tidak? Di sinilah letak tanggung jawab jurnalis Muslim,” ujar Prof. Sami.

Diskusi jurnaslis Muslim Indonesia dengan Prof Sami yang dipandu langsung oleh Ustad  Bachtiar Nasir (UBN) sangat menarik dan seru. Para jurnalis berebutan mengajukan pertanyaan dan Prof. Sami menjawabnya dengan sangat meyakinkan.

Bahkan di akhir sesi, Prof. Sami juga menawarkan kerjasama dengan para jurnalis Muslim, seperti pelatihan-pelatihan dan kunjungan ke berbagai negara Muslim dalam rangka meningkatkan  kemampuan teknologi informasi berbasis AI dan memperluas jaringan.*** (pjmi/IL)  

Video Terkait: