Home Opini Rumah Layak Huni Bagaikan Mimpi di Sistem Hari Ini

Rumah Layak Huni Bagaikan Mimpi di Sistem Hari Ini

663
0
SHARE
 Rumah Layak Huni Bagaikan Mimpi di Sistem Hari Ini

Oleh: Ambarwati,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Kutak habis pikir, Indonesia kurangnya di mana? Eh, itu potongan lagu yang saya ganti katanya saja. Tahukan lagunya? Hehehe. Tapi, saya bukan mau promosi lagunya, saya hanya heran dan potongan lagu tersebut mewakili perasaan dan hati saya. Karena sangat miris melihat fakta hari ini, punya rumah layak huni bagaikan mimpi di siang hari. Benar-benar tak habis pikir Indonesia ini kaya, segala hasil bumi yang harusnya lebih dari cukup untuk memenuhi sandang, pangan, dan papan, seluruh penduduk Indonesia. Tapi membahas papan alias tempat tinggal, faktanya 26,9 juta rumah penduduk Indonesia tak layak huni. Belum lagi yang belum punya rumah. Duh pusing! 

Ada apa dengan pengaturan negara hari ini? kesenjangan ekonomi finansial yang begitu jomplang, orang kaya mati orang miskin mati. Eh, bukan itu. Orang yang kaya makin sejahtera, yang miskin ya makin nyungsep. Iya enggak sih? Jangankan untuk mikir punya rumah yang layak untuk dihuni, si miskin ini untuk memenuhi kebutuhan perut saja kewalahan. Ditambah lagi, harga tanah dan material bangunan selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Akibatnya banyak masyarakat yang tinggal di tempat yang seadanya saja, enggak layak huni, dan mengancam jiwa bahkan nyawa.

Usut punya usut ternyata hal ini lagi-lagi terjadi karena penerapan sistem kapitalisme si biang kerok segala kesulitan dan ketidakmerataan kondisi finansial masyarakat Indonesia bahkan seluruh dunia hari ini. Korporasi mengendalikan pembangunan perumahan untuk rakyat dengan tujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Inilah yang menyebabkan harga rumah mahal. Sementara negara hanya bertindak sebagai regulator yang lepas tanggung jawab dalam menjamin kebutuhan perumahan rakyatnya.

Sistem kapitalisme ini enggak adil banget, karena membuat negara yang harusnya menjadi pihak utama dan pertama yang berkewajiban menyejahterakan rakyatnya. Justru sebaliknya menjadikan rakyat ini sebagai lahan cuan, lahan bisnis. Yang dipakai asas untung-rugi kaya orang dagang. Orang dagang juga enggak gitu-gitu amat. Pas pemilu dagang omongan janji-janji ina-ini, pas jadi lupa diri. Hihihi dan parahnya rakyat enggak pada kapok.

Beda banget dengan sistem Islam/Khilafah yang akan menjamin setiap warga negaranya mendapatkan jaminan kesejahteraan, selain tercukupinya sandang dan pangan adalah terjaminnya perumahan yang tentu layak huni berkualitas dan tentunya sesuai kebutuhan kaum Muslimin. Lapangan pekerjaan dan gaji yang mensejahterakan niscaya warga negara dapat memiliki rumah hunian layak tanpa riba, tanpa banyak drama.


Tak habis pikir kan kenapa enggak mau pakai sistem Islam saja? Sistem Islam yang biasa disebut khilafah ini sudah teruji, menciptakan peradaban manusia pada tingkat derajat yang tinggi. Enggak seperti sistem kapitalisme ciptaan manusia hari ini yang menyebabkan segala keruwetan hidup manusia bahkan hewan dan tumbuhan. Khilafah dengan tata kelolanya sesuai standar hukum syara niscaya perumahan yang tercipta jauh dari pencemaran limbah, sampah, dan zat-zat lainnya yang membahayakan jiwa.

Regulasi Islam dan kebijakan Khalifah juga akan lebih memudahkan seseorang memiliki rumah, salah satunya aturan terkait tanah yang ditelantarkan selama tiga tahun oleh pemiliknya, maka negara berhak memberikannya kepada orang lain, termasuk untuk pendirian rumah. Bahan-bahan pembuatan rumah juga mudah didapatkan, sebab sebagian besar merupakan kepemilikan umum.(*)